Sejarah Pengadilan Agama Sawahlunto

By Pengadilan Agama Sawahlunto 04 Des 2017, 07:12:33 WIB

Sejarah Pembentukan Pengadilan Agama Sawahlunto

Kondisi masyarakat Sawahlunto yang mayoritas beragama Islam dan sangat agamais serta menyegani tokoh ulama, maka apabila ingin menyelesaikan permasalahan yang terjadi seputar rumah tangga, mereka pergi menemui ulama setempat yang biasanya tinggal di surau-surau dan minta agar mereka bisa menjatuhkan talak, maupun minta fasakh. Dan apabila menyangkut masalah yang sangat rumit dan komplit seperti penyelesaian harta warisan, masyarakat melalui tokoh ulama yang berpengaruh di Sawahlunto mengundang                   Syekh H. Sulaiman Ar-Rasuli (Buya Canduang) agar datang ke Sawahlunto dan mohon fatwa kepada beliau.

Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1946 sebagian masyarakat yang telah mengetahui adanya peraturan tersebut dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga yaitu masalah talak dan fasakh mereka pergi ke Petugas Pencatat Nikah, Talak, dan Rujuk (P3 NTR) yang ditunjuk oleh Departemen Agama, P3 NTR melaporkan ke Kantor Departemen Agama bahwa telah terjadi Pernikahan, Talak, Rujuk,  namun untuk masalah yang besar dan komplit seperti sengketa waris, mereka masih mengundang Buya Candung untuk menyelesaikan masalah tersebut. 

Dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1957 tanggal 9 Oktober 1957 tentang Pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah di Luar Jawa dan Madura serta disusul dengan keluarnya Penetapan Menteri Agama Nomor 58 Tahun 1957 tentang Pembentukan Empat Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah Propinsi di Sumatera, salah satunya di Bukittinggi. PAMAP Bukittinggi yang pada tanggal 17 September 1958 dipindahkan ke Padang dengan yuridiksi Sumatera Tengah yang meliputi Propinsi Sumatera Barat, Riau, dan Jambi, maka Kasi Penais (Penerangan Agama Islam) Departemen Agama Sawahlunto yang bernama Labai Zainuddin pada bulan Maret tahun 1959 berinisiatif mendirikan Pengadilan Agama, dengan didukung oleh para tokok ulama dan pejabat di lingkungan Departemen Agama maka berdirilah Pengadilan Agama Sawahlunto. Setelah berdirinya Pengadilan Agama Sawahlunto maka butuh minimal satu rungan untuk melayani masyarakat pencari keadilan. Dengan adanya hubungan baik antara Pejabat Departemen Agama Sawahlunto dengan Pastor Khatolik Gereja Sawahlunto (karena waktu itu banyak guru-guru Departemen Agama Sawahlunto yang mengajar disekolah Santa Lusia Sawahlunto), maka Pastor Khatolik Gereja Sawahlunto menawarkan satu ruangan di sekolah Santa Lusia sebagai Kantor Pengadilan Agama Sawahlunto.

 

Perkembangan Pengadilan Agama Sawahlunto

Dalam menjalankan tugas sebagai lembaga peradilan dibawah lingkungan Departemen Agama dan sebelum memiliki gedung sendiri Pengadilan Agama Sawahlunto telah sering berganti/memakai gedung pinjaman yaitu:

  1. Pada tahun 1959 s.d tahun 1960 Pengadilan Agama Sawahlunto dalam menjalankan tugas menumpang pada satu ruangan di gedung sekolah Santa Lusia Sawahlunto;
  2. Pada tahun 1961 s.d 1963 dalam menjalankan tugas Pengadilan Agama Sawahlunto meminjam Rumah Dinas Perusahaan PT. Tambang Batu Bara Ombilin di Kubang Sirakuk Bawah, Kota Sawahlunto;
  3. Pada tahun 1964 s.d 1977 meminjam sebuah lokal gedung kantor Demang Kota Sawahlunto;
  4. Pada tahun 1977 s.d 1980 menumpang pada satu ruangan di Kantor Urusan Agama / KUA Sawahlunto yang terletak di Kubang Sirakuak;
  5. Pada tanggal 3 Januari 1981 secara resmi Pengadilan Agama Sawahlunto menempati gedung baru milik sendiri yang terletak di Kelurahan Lubang Panjang, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto diatas tanah dengan luas 1.105 M2 (2.5 KM dari Pusat Kota Sawahlunto);
  6. Pada tanggal 2 Maret 2015 s.d sekarang Pengadilan Agama Sawahlunto pindah ke gedung kantor baru yang  dibanguan sesuai dengan proto type Mahkamah Agung RI, yang berlokasi di Jalan. Khatib Sulaiman KM 8 Kolok Mudik Kota Sawahlunto.

Dan sejak berdirinya Pengadilan Agama Sawahlunto dari tahun 1959 sampai tahun 2016, telah dipimpin oleh 12 (dua belas) orang ketua sebagai berikut:

No

Nama

Masa Jabatan

1.

Ali Umar Dt. Maleka

1959 s/d -----

2.

Zainuddin Yahya

------ s/d 1962

3.

Damrah Saleh Dt. Nan Basa

1962 s/d 1981

4.

Drs. H. Moh. Chamdani Hasan

1981 s/d 1988

5.

H. Rival Tunun, BA

1988 s/d 1989

6.

Drs. H. Abu Bakar Syarif, S.H.

1989 s/d 1995

7.

Drs. Zulkifli Arief, S.H.

1995 s/d 2001

8.

Drs. H. Thamrin Habib, S.H., M.H.

2001 s/d 2004

9.

Drs. Hamdani, S. S.H, M.H.I.

2004 s/d 2008

10.

Drs. H. Syafruddin Ahmad

2008 s/d 2012

11.

Drs. Ahmadi Yakin Siregar, S.H.

2012 s/d 2016

12.

Dra. Mardhiyah M. Hasan, M.H

2016